NSA Kehilangan Akses AI Mythos 5, Alat Canggih Pendeteksi Celah Keamanan
WASHINGTON, Headline24.id – Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) dilaporkan kehilangan akses terhadap model kecerdasan buatan (AI) canggih Mythos 5 milik Anthropic yang selama ini digunakan untuk membantu mengidentifikasi kerentanan perangkat lunak dan memperkuat pertahanan siber.
Laporan tersebut diungkap The New York Times di tengah perselisihan berkepanjangan antara pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan teknologi Anthropic terkait penggunaan teknologi AI untuk kebutuhan militer dan keamanan nasional.
Pemutusan akses terjadi setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan pembatasan terhadap Anthropic pada awal bulan ini dengan alasan keamanan nasional.
Langkah tersebut berdampak langsung pada sejumlah lembaga intelijen yang sebelumnya memanfaatkan teknologi AI tersebut untuk berbagai kebutuhan analisis dan operasi siber.
AI Mythos 5 Dinilai Mampu Menemukan Celah Keamanan dengan Cepat
Menurut laporan yang dikutip sejumlah media internasional, Mythos 5 menunjukkan kemampuan yang mengesankan dalam mendeteksi kelemahan sistem keamanan digital.
Dalam proses pengujian, model AI tersebut disebut mampu menemukan kerentanan pada jaringan pemerintah Amerika Serikat yang memiliki tingkat keamanan tinggi hanya dalam waktu beberapa jam.
Kemampuan tersebut membuat teknologi AI milik Anthropic menjadi salah satu alat yang banyak digunakan dalam lingkungan keamanan nasional, termasuk untuk analisis intelijen, perencanaan operasional, hingga penguatan pertahanan siber.
Kehilangan akses terhadap sistem itu disebut menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas intelijen Amerika Serikat yang selama ini mulai mengandalkan teknologi kecerdasan buatan dalam mendukung tugas mereka.
Perselisihan Bermula dari Penggunaan AI untuk Kepentingan Militer
Ketegangan antara pemerintah AS dan Anthropic semakin meningkat sejak Februari 2026.
Saat itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menetapkan Anthropic sebagai pihak yang dianggap berisiko terhadap rantai pasokan teknologi pemerintah setelah perusahaan tersebut menolak melonggarkan sejumlah pembatasan penggunaan AI untuk kebutuhan militer.
Anthropic menyatakan tidak mendukung penggunaan teknologinya untuk pengawasan massal terhadap masyarakat maupun pengembangan sistem senjata otonom sepenuhnya.
Sikap tersebut memicu respons dari pemerintahan Trump yang kemudian memerintahkan seluruh lembaga federal untuk menghentikan penggunaan teknologi Anthropic secara bertahap dalam jangka waktu enam bulan.
Anthropic Tempuh Jalur Hukum
Menanggapi kebijakan tersebut, Anthropic menggugat pemerintah Amerika Serikat.
Perusahaan teknologi itu menilai keputusan pemerintah merupakan bentuk pembalasan atas penolakannya untuk menghapus sejumlah pengamanan penggunaan AI di sektor militer.
Meski terdapat instruksi penghentian bertahap, sejumlah laporan media menyebut beberapa instansi pemerintah masih menggunakan teknologi Anthropic dalam operasional tertentu sambil menunggu proses hukum berjalan.
Integrasi AI dalam Dunia Intelijen dan Militer Jadi Sorotan
Kasus ini kembali memunculkan perdebatan mengenai semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan dalam sektor pertahanan dan keamanan nasional.
Berbagai lembaga pemerintah di sejumlah negara kini mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat analisis data, memperkuat sistem pertahanan siber, hingga membantu pengambilan keputusan strategis.
Namun, para peneliti dan pakar keamanan siber juga mengingatkan bahwa teknologi yang dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan digital berpotensi dimanfaatkan untuk melakukan serangan siber secara lebih cepat dan masif.
Five Eyes Ingatkan Ancaman AI terhadap Keamanan Global
Peringatan serupa juga datang dari aliansi intelijen Five Eyes yang beranggotakan Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.
Dalam pernyataan terbaru, para ahli keamanan siber dari lima negara tersebut mengingatkan bahwa perkembangan model AI yang semakin canggih berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menyerang pemerintah, perusahaan, hingga infrastruktur penting di berbagai negara.
Mereka menilai kemampuan AI yang terus berkembang dapat menurunkan hambatan teknis bagi peretas dan meningkatkan skala ancaman keamanan digital di masa depan.
AI Semakin Berperan dalam Keamanan Nasional
Hilangnya akses NSA terhadap Mythos 5 menunjukkan betapa besarnya peran kecerdasan buatan dalam ekosistem keamanan modern.
Di satu sisi, teknologi AI mampu membantu mendeteksi ancaman dan memperkuat sistem pertahanan siber. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi tersebut juga memunculkan perdebatan mengenai batasan etika, keamanan, dan pengawasan dalam penerapannya di sektor militer maupun intelijen.
Perkembangan kasus antara pemerintah Amerika Serikat dan Anthropic diperkirakan akan terus menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arah kebijakan penggunaan AI dalam keamanan nasional pada masa mendatang.
